Terjadikesalahan cara pandang dalam melihat pasar tradisional yang dipertontonkan secara telanjang oleh Panja DPR RI dan Pemerintah dalam hal ini Kementrian Perdagangan,
article dampak pertumbuhan pasar modern terhadap pasar tradisional di kabupaten karawang. november 2019; buana ilmu 4(1):72-81
KataKunci : Pasar Tradisional, Pasar Modern, dan Pedagang. PENDAHULUAN . Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah Vol.2 No.1 Februari 2017: 125- 133 126 Perdagangan merupakan sektor yang berkembang dengan pesat pada kegiatan
Pasartradisional selain lebih murah juga bisa ditawar sedangkan pasar modern selain mahal harga sudah tetap dan tidak bisa ditawar. Suatu kegiatan ekonomi yang bersifat mengurangi, atau menghabiskan manfaat dan kegunaan hasil dari produksi (barang atau jasa) untuk memenuhi kebutuhan. Buruh pabrik, tukang kayu, tukang kue
Pasarmodern memiliki bangunan yang permanen, jadi kalian tidak akan kepanasan atau kehujanan pada saaat berbelanja, Umumnya barang yang terdapat di pasar modern tertata rapi agar mudah untuk dicari oleh pelanggan, Umumnya memiliki harga yang lebih mahal daripada pasar tradisional, Pembayaran dilakukan oleh bantuan kasir; Untuk pembayaran di
Lokasiyang digunakan adalah Pasar Tradisional dan Pasar Modern yang ada di Ciputat Tangerang Selatan,Video Ini dibuat Untuk memenuhi salah satu Matakuliah d
AKAq8y. Pasar merupakan salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang fiat. Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Ini adalah pengaturan yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk item pertukaran. Persaingan sangat penting dalam pasar, dan memisahkan pasar dari perdagangan. Pasar sendiri diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu pasar tradisional dan pasar modernistic. Pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. Sedangkan pasar modern adalah tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat characterization harga yang tercantum dalam barang barcode, berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri swalayan atau dilayani oleh pramuniaga. Pada saat ini, banyakanya pembangunan pasar modern seperti indomart, alfamart, minimarket dan berbagai swalayan lain telah menyudutkan pasar tradisional di kawasan perkotaan terutama di Wonosari. Dengan menggunakan konsep penjualan produk yang lebih lengkap dan dikelola lebih profesional, kemunculan pasar modern lebih menjadi pilihan utama masyarakat tertentu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pesatnya perkembangan pasar yang bermodal kuat dan dikuasai oleh satu manajemen tersebut dipicu oleh kebijakan pemerintah untuk memperkuat kebijakan penanaman modal asing. Dampak dari hal yang dikemukakan menurut survei pada tahun 2004 didapatkan data bahwa pertumbuhan pasar modern 31,4% dan pasar tradisional bahkan minus 8,1%. Hal ini menunjukkan adanya masalah yang dihadapi pasar tradisional sebagai wadah utama penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi skala menengah kecil. Tetapi demikian, pemerintah tetap berupaya membangun pasar tradisional di seluruh daerah termasuk di daerah Wonosari, Gunungkidul. Saat ini kondisi pasar tradisional di daerah Wonosari cukup bagus, akan tetapi perawatan pasar yang tidak maksimal membuat pasar semakin koto akan banyaknya sampah para pedagang di pasar tersebut. Dari berbagai macam fakta yang dikemukakan, banyak hal yang sebenarnya membuat pasar tradisional mulai kehilangan tempat di hati masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Perilaku konsumtif para konsumen semakin tinggi karena konsumen kian memahami haknya, sedangkan di sisi lain mereka hanya memiliki waktu dan kesempatan yang semakin terbatas untuk berbelanja. Perubahan perilaku konsumen yang cenderung konsumtif dan terlalu menuntut tersebut menyebabkan mereka beralih ke pasar modernistic. Pasar-pasar modernistic dikemas dalam tata ruang yang nyaman, bersih, sejuk dan pelayanan yang ramah. Pengalaman berbelanja tidak lagi disuguhi dengan suasana yang kotor, panas, sumpek, dan becek sehingga para konsumen lebih tertarik pada pasar modernistic. Membiarkan pasar tradisional apa adanya dan meminta pemerintah menghambat pengembangan pasar modern tidak akan membantu pasar tradisional untuk bertahan hidup. Masyarakat selaku konsumen semakin menuntut kenyamanan, dan jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi pasar tradisional, maka secara otomatis mereka akan beralih ke pasar modern. Bisa dilihat dari maraknyua pasar modern atau swalayan yang telah berkembang pesat di Kabupaten Gunungkidul ini, termasuk kota Wonosari. Semakin berkembangnya kota tersebut, maka semakin banyak perkembangan pasar mod. Kematian pasar tradisional telah berdentang, dan pengunjung setia yang terakhir akan meninggalkan pasar tradisional ketika pasar tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhannya lagi. Keberadaan pasar tradisional tidak dapat diatur atau dilindungi oleh peraturan pemerintah setingkat apapun. Pasar tradisional hanya dapat dipertahankan jika mereka disediakan tempat khusus yang nyaman dan disediakan oleh pemerintah. Atas alasan itu pula, pasar modern tidak dapat dipersalahkan. Beberapa pasar tradisional yang “legendaris” dan telah menjadi bagian dari nilai budaya tradisional antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, dan pasar Johar di Semarang tersebut harus lebih diperhatikan keberadaannya. Karena sebenarnya pasar tradisonal mempunyai fungsi yang lain, yaitu tempat terjadinya interaksi sosial antara masyarakat yang satu dengan yang lain atau penjual dengan pembeli. Pembangunan pasar tradisional pada tempat-tempat khusus di daerah Wonosari setidaknya dibuat lebih nyaman. Karena interaksi sosial biasa terjadi apabila ada suatu perkumpulan antara pedagang dan pembeli. Pada saat itu juga terjadi penawaran harga. Jika dibandingkan dengan pasar mod, interaksi sosial jauh lebih sedikit. Karena di pasar modern tersebut, konsumen telah disediakan berbagai macam pilihan barang yang akan dibeli dan sudah tertera harga barang tersebut dalam label. Saat ini pemerintah kurang melakukan pemberdayaan pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi yang masih dibutuhkan oleh masyarakat luas di kota Wonosari dan lambatnya penerapkan teknologi yang efektif dan metode baru untuk mengubah pasar tradisional menjadi pasar yang bersih dan nyaman bagi pengunjung tanpa membebani pedagang dengan biaya renovasi kios yang cenderung mahal. Yang diperlukan saat ini adalah aturan tata ruang yang tegas yang mengatur penempatan pasar tradisional dan pasar modernistic. Pemerintah seharusnya bisa lebih tegas dalam menghadapi persoalan ini. Pemerintah harus membatasi perkembangan psar pasar mod di daerah tertentu sehingga pasar pasar modern dapat lebih terfasilitasi. Selain itu, perlu merubah tampilan pasar tradisional agar bisa lebih nyaman dan teratur. Sehingga masyarakat bisa lebih memilih berbelanja di pasar tradisional daripada pasar modern. Lihat Bisnis Selengkapnya Beri Komentar Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar! Lihat Semua Komentar 0 VIDEO PILIHAN Source
... In contrast to the modern market whose service pattern is buyers or customers serve themselves in choosing the goods needed. Muftiadi & Maulina, 2016 Purchase decisions can also affect customer loyalty. This is in accordance with research conducted by Susdiarto et al., which states that purchasing decisions have a positive and significant effect on consumer loyalty. ... Isnaini HarahapYenni Samri Juliati NasutionChairina ChairinaCustomer loyalty is the customer's commitment to a brand, store, or supplier and is reflected in consistent repeat purchases. This customer loyalty can be influenced by product, price, service, and purchasing decisions. The purpose of this study was to determine the direct and indirect influence between product variables, prices, services, and purchasing decisions on the loyalty of Muslim customers shopping for fashion in the traditional Inpres I Market in Kisaran. Method This study uses a quantitative approach with path analysis and a sample of 100 respondents. The results of this study indicate that product, price, and service variables influence purchasing decisions by and the remaining are influenced by other variables. Whereas product, price, service, and purchasing decision variables affect Muslim customer loyalty in fashion shopping at Traditional Inpres I Market in Kisaran with AA contribution of and the remaining is influenced by other variables. From the results of the significance test of the indirect effect it was found that there was a significant indirect effect of product, price, and service variables on the loyalty of Muslim customers shopping for fashion through purchasing decisions as an intervening variable in the traditional Inpes I Market in the Range with a 95% confidence level or error rate 5%.... The government plays a vital role in setting the regulations and monitoring the management system of traditional markets because in some countries, particularly Indonesia, traditional markets has a significant impact on the country's economy Ars, 2015. People who shop at traditional markets are always associated with the shopping centers of the lower middle class Muftiadi and Maulina, 2016. ...Raya Ilham Syah MajiidJoko SutrisnoUmi BarokahVegetables are horticultural crops that have a high market absorption. Modern market that is considered to have many advantages does not necessarily reduce consumers’ shopping interest at traditional markets. Traditional markets appear to have different characteristics and visitor segments from modern markets. This study aims to determine the level of consumers’ satisfaction of vegetables towards the marketing mix in the traditional markets in Sukoharjo. Data were processed using the Customer Satisfaction Index CSI method. The study was conducted from January to March 2019 with 80 consumers of vegetables as the respondents taken using quota sampling technique. CSI analysis was used to measure the level of customers’ satisfaction by calculating the rates of indicator performance attached to the items/services given by the consumers. Based on the CSI values, the result of the study conclude that consumers were satisfied with the services provided in traditional markets, which put priority on using family system to create convenient atmosphere of transactions.... Traditional markets are markets built by the government, the private sector, cooperatives, or the nongovernment sector with businesses in the form of kiosks, shops, booths and tents, managed by small, medium and cooperative cooperatives, with small scale companies and small capital, and with the buying and selling process through bargaining [5]. Traditional markets lack comfort and low order [6]. The existence of this traditional market must be considered by the regional government of Purworejo Regency, so that Purworejo District Regulation Number 6 of 2014 concerning the protection and empowerment of traditional markets, structuring and mastery of modern markets. ...... As a result of these concerns, various aspects of traditional markets have recently become important objects of research by some scholars in Indonesia, including Rufaidah 2008, Fonsah et al. 2008, Sudiayanto 2011, Sovina and Puspa 2012, Asri 2010, Kurniawan 2014, Fajrin et al. 2015, Muftiadi andMaulina 2016, andSlamet et al. 2017. In addition to a focus on sociological and economic aspects of this phenomenon, the research has also focused on some impacts on the diversity of edible plants traded in the traditional market of Indonesia. ...... As a result of these concerns, various aspects of traditional markets have recently become important objects of research by some scholars in Indonesia, including Rufaidah 2008, Fonsah et al. 2008, Sudiayanto 2011, Sovina and Puspa 2012, Asri 2010, Kurniawan 2014, Fajrin et al. 2015, Muftiadi andMaulina 2016, andSlamet et al. 2017. In addition to a focus on sociological and economic aspects of this phenomenon, the research has also focused on some impacts on the diversity of edible plants traded in the traditional market of Indonesia. ...Traditional markets are where traders and buyers meet; places where the supply and demand activities of selling and buying between traders and buyers occur. Buying and selling activities are realized based on the practice of bargaining, made possible by a negotiated willingness to slide a price. In bargaining, social relationships are activated. Traditional markets are managed by local companies called PD Pasar. The traders are generally small business groups. A particular feature of traditional markets is that they are primarily places to trade various foodstuffs that are needed by urban dwellers, including products such as rice and other additional staple foods, vegetables, spices and fruits. The aim of the study reported here was to detail various edible plant species and their variations landraces that are the source of products traded in a typical traditional market of West Java, Indonesia. The products of interest to us included carbohydrate staple foods, vegetables, spices, and fruits, produced by village farmers. We investigated the trading network for these edible plant commodities; and the role of traditional markets in supporting the conservation of biodiversity in the edible plants traded. The method used in this study was qualitative, applying an ethnobotanical approach. Field techniques of direct observation, participant observation and deep interview were applied. The results of the study showed that the traditional market of Ujung Berung, in Bandung, West Java, plays an important role in trading various edible plants produced by village farmers. Altogether, 120 plant species were recorded in the market, out of a total of 188 variants species, and intra-species landraces, representing 44 families. There were 103 species that provided vegetables, 58 species used as spices, 39 species used for their fruits, and 10 that provided carbohydrate staple foods. In general, these plants commodities traded in the Ujung Berung traditional market are supplied by village traders or are bought from the central market in Bandung. The traditional market of Ujung Berung, Bandung has an important role as a place of economic activity for small businesses Furthermore, it is a factor supporting biodiversity in the edible plants traded. © 2018, Society for Indonesian Biodiversity. All rights Chairina Isnaini HarahapYenni Samri Juliati Nstp> Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari langsung dan tidak langsung antara variabel produk, harga, pelayanan, dan keputusan pembelian terhadap loyalitas pelanggan muslim pembelian fashion di Pasar Inpres I tradisional di Kisaran. Metode Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan analisis jalur dan sampel sebanyak 100 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel produk, harga, dan pelayanan menentukan terhadap keputusan pembelian sebesar 66,6% dan sisanya sebesar 33,4% diperlukan oleh variabel lain. Sedangkan variabel produk, harga, pelayanan, dan keputusan pembelian terhadap loyalitas pelanggan muslim membeli fashion di Pasar Inpres I Tradisional di Kisaran dengan kontribusi sebesar 70,9% dan sisanya sebesar 29,1% dibutuhkan oleh variabel lain. diagram venn pasar tradisional dan pasar modern